Thursday, August 25, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 4:44:00 PM | No comments

Not A Reenactment Video: Weiner


There is a powerful women behind your success. People says so. Wiener story on this documentary video explains everything.

Family with a success position in the political world, how far the politician really understand that he must sacrifice everything for it: family, dignity, position! Sex scandal certainly be the brunt of this.

At the first time, I thought this is a kind of video reenactment, when I see the cinematography, setting, costumes, etc. and so on is wonderful. But no, it is the REAL event. Yes it is, real footage with the actors themselves.

I was googling for "Huma Abedin" and "Anthony Weiner". There they are!

This documentary is something that really need to be watched, by anyone who wants to go forward to that world! But this piece from two days ago is something you need to be considered!

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 23, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:43:00 PM | No comments

Lidah Udik

Tadi siang makan di restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan megah di Jakarta, ga enak padahal sudah pasti mahal apalagi ditraktir sebuah brand global. [Tim yg nraktir juga blg: di sini mah yg enak cuma gado2]

Malam ini makan nasi uduk yang saya masak sendiri di #raiskuker, enak banget padahal cuma modal beras, bumbu dapur dan santan yang semuanya sangat murah.

Lidah saya yang suka uduk ini memang udik... Cen ndeso tenan!

Ini menu makanan traktirannya.

Mlekom,
AZ

Friday, August 19, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:01:00 PM | No comments

Cara Mengembalikan Foto yang Hilang dari SD Card

Pekan lalu aku berkesempatan menyaksikan tari sakral dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bedhaya namanya. Tarian sakral ini dulunya hanya boleh ditonton oleh keluarga kerajaan, kini ketika kraton menampilkan tarian ini ketika menyambut tamunya.

Seumur-umur memang baru sekali melihat pertunjukan tari bedhaya secara langsung. Pernah menonton tarian ini di TVRI Yogya ketika menyiarkan langsung pernikahan anak Sultan Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Intinya, aku bahagia sekali malam itu. Sampe SD card penuh dioakai untukmotret dan videokan tariannya. Beberapa hari kemudian setibanya di Jakarta, kusalin foto-fotonya ke komputer. Eh kemarin foto-fotonya kok ya hilang! :'(

Duh kebayang kan sedihnya. Kapan lagi dapat kesempatan menjadi tamu kehormatan Kraton Surakarta seperti kemarin itu...

Lalu... gugled, tentu saja! Dan ya ya, setelah mencoba sekian saran di sana, ini yang 'mempan' mengembalikan file-file tersebut: Zero Assumption Recovery (ZAR X) yang infonya kuperoleh dari sini.

Setelah unduh perangkat lunaknya di sini, aku tinggal membuka aplikasinya. Masukkan SD card yang fotonya terhapus itu. Lalu pilih "Image Recovery" --> pilih "Disk and Partition" yang akan dikembalikan --> klik "Next". 

Tunggu deh sampai recovery selesai. Lalu pilih "Location" folder yang akan dijadikan tempat menyimpan di komputer. Selesai!

Soal berapa banyak atau berapa lama (tanggal pengambilan gambar) foto yang bisa dikembalikan, aku ga tahu. Tapi foto pekan lalu yang saya cari sudah pulih semua, salah satunya foto di atas.

Selamat mencoba!

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 17, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:52:00 PM | No comments

Mengisi Kemerdekaan, Hari Ini


Saya mengisi kemerdekaan dengan:

  1. Menulis cerpen (uhuk!)
  2. Bikin kue bolu 
  3. Beberes
  4. Masak ikan goreng & sayur lodeh 
  5. Silaturahmi ke teman 
  6. Baca buku 
  7. Pesbukan. Twitteran. IGan. 
Itu seharian tadi.

Alhamdulillah merdeka dalam berkarya, berkeluh-kesah, bertemu dan berkata tidak. Saya diberi kesempatan untuk mengutarakan yang ingin diutarakan. Diperbolehkan melakukan hal yang disuka. Dibebaskan untuk bertemu dengan siapa saja. Bahkan didukung ketika saya tidak ingin mengerjakan apapun.

Keseharianmu sudah merdeka? 
#‎RI71‬ ‪#‎Merdeka

Bolu yang kubikin hari ini.

Mlekom,
AZ

Sunday, August 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:00:00 PM | No comments

Lelaki Muda yang Duduk Bersila di Bangku Tunggal


Dengan susah payah kunaiki tangga kereta. Dua koper di tangan menjadi sebab sulitnya aku bergerak. Koper ini nantinya akan kubawa ke bandara.

Seluruh kursi di sekitar tempatku berdiri penuh. Memang pada tiket kereta lokal jarak pendek ini tertulis "tanpa tempat duduk", yang berarti aku harus berebut dengan ratusan orang untuk mendapatkan sebuah kursi.

Tak ada tanda-tanda kursi kosong. Dengan dua koper ini, aku tak mungkin pula bergeser untuk mencari kursi kosong ke gerbong lain. Maka kusandarkan badan di tiang penyangga, dengan kedua koper kuletakkan menyandar kaki. Di balik tiang ada sebuah bangku tunggal (single seat) yang diduduki lelaki muda. Kedua kakinya diletakkan di atas kursi, bersila.

Di depan lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, berdiri seorang bapak yang mengaitkan tanggannya ke dua bocah usia sekolah dasar. Bapak-anak ini clingak-clinguk mencari bangku kosong yang dapat mereka duduki. Tak ada. Sebagaimana aku, mereka pun mencari sandaran. 

Pada lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, rasanya ingin kutanyakan: Apakah boleh jika bangkunya diberikan kepada bapak yang membawa anak itu?

Tapi kuurungkan. Entah mengapa.

Kereta jalan. Tak lama terdengar lantunan ayat suci. Merdu, sebagaimana yang sering kudengar dari rumah ibadah di lingkungan kami. Keras, di tempat yang tak semestinya ini. Suara merdu nan keras yang bersahutan dengan deru laju kereta. Tak hanya satu, tapi dua. Satu lantunan keluar dari lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal, satu lantunan lain dari bangku di sampingku yang diduduki perempuan bercadar hitam. Keduanya memegang kitab yang sama dengan kondisi terbuka sebab sedang dibaca.

Bagiku, saking sucinya kitab itu, aku merasa membutuhkan privasi yang lebih ketika aku 'bercinta' dengannya. Kurang afdol rasanya membaca di tengah kerumunan orang yang merasakan ketidaknyamanan, sementara aku bisa duduk nyaman membacanya. Tak sudi pula aku membacanya dengan suara keras ketika aku berada di tempat umum yang bukan tempat ibadah, kitab ini terlalu suci untuk mengganggu ketenangan orang lain.

Namun justru itulah yang terjadi. 

Belum setengah jarak kami tempuh dalam perjalanan sejam ini, kudengar suara lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara kepada seorang lelaki berkulit putih bermata sipit. Lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Bahasa Indonesia, bahasa Arab. Terus begitu. 

Kepada lelaki berkulit putih bermata sipit, si lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal mempertanyakan soal agama. Memang lelaki berkulit putih bermata sipit sedang membaca buku tentang sebuah agama yang berbeda dengan agama lelaki muda yang duduk di bangku tunggal.

Apakah anda benar-benar membaca al-kitab dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa hanya Islam lah agama yang dirahmati Allah?

Lelaki muda yang duduk di bangku tunggal terus berbicara dengan suara yang dapat didengar penumpang di setengah gerbong kereta. Dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Lalu bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Begitu terus hingga kereta kami tiba di stasiun tujuan.

Meski sesekali ia anggukkan kepala, lelaki berkulit putih bermata sipit terlihat tak nyaman dengan obrolan itu. Tentu saja. Laki muda yang duduk bersila di bangku tunggal terbiasa membicarakan tentang keagamaan di mana pun, kapan pun. Dari penampilannya yang tampak seperti pekerja kantoran itu, lelaki berkulit putih bermata sipit ini tampak tak siap. Bukan 'lawan' yang sebanding.

Kubayangkan ketika aku sedang melakukan aktivitas keseharian, seperti naik kereta api, bertemu dengan seseorang dari negara yang sama denganku yang menanyakan:

Apakah anda benar-benar membaca kitab suci dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa Islam adalah agama pengembangan, bukan agama asli yang diturunkan Tuhan?

Aku pasti tidak nyaman. Bukankah agama/ajaran/kepercayaan adalah hal paling pribadi yang dianut tiap manusia? Bukankah ini merupakan urusan masing-masing manusia dengan penciptanya (hambluminallah)?

Lain hal jika akulah yang membuka obrolan tentang itu. Atau ketika aku menghadiri sebuah diskusi keagamaan. Itu pun rasanya tak elok jika ada kesan apalagi pernyataan yang menyudutkan keyakinan orang lain.

Dari pada mempertanyakan mengapa orang lain memeluk agama yang tidak sama dengan agamamu ( ingat lakum diinukum wa liyadiiin), lebih baik mengoreksi peran sosialmu (kewajiban hablumminannas) ketika tidak memberikan bangku pada orang yang lebih berhak, ketika mengganggu ketenangan orang lain di kendaraan umum, dan ketika 'menyerang' keyakinan orang lain di saat yang tidak tepat.

Tentang lelaki berkulit putih bermata sipit ini, temanku memberi komentar:
"Lagi apes aja!". Semoga Allah merahmatinya, juga merahmati lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal.

Mari mendoakan agar segala tindak tanduk dan ibadah kita disempurnakanNya.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata