Saturday, December 31, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:51:00 PM | No comments

Layanan Puskesmas di Kota Jogja

Pernah gunakan layanan Puskesmas di sekitar tempat tinggalmu?

Saya (akan) pernah.




Update, setelah selesai layanan:


Menurutku ini kemahalan untuk layanan Puskesmas, mengingat profil pengguna layanannya. Tadi tambal dua gigi kena Rp 30.000. Jadi total Rp 52.000, angka yang pasti besar untuk kebanyakan pengguna Puskesmas yang ga punya jaminan kesehatan.


Di Jakarta (aku berobat di Puskesmas Menteng Jakarta Pusat) semua layanan Rp 2.000 di jam kerja, Rp 15.000 setelah jam/hari kerja (layanan klinik umum 24 jam/7 hari). Layanan tambal gigi seharga Rp 10.000, alat dan fasilitas di ruang gigi sudah pakai teknologi terbaru sebagaimana di rumah sakit. Belum lagi soal bagunannya yang boleh lah disamakan dengan kelas rumah sakit kecil/klinik besar.


Di Puskesmas di tengah kota Yogya ini, lampu sorotnya mati, sedotan saliva ga fungsi dan air kumur diambil dari kran washtafel. Huf, padahal Yogya menjadi barometer kesehatan di Indonesia.


Yang bikin beanya lebih mahal pastinya akibat minimnya alokasi anggaran kesehatan sebagai subsidi pemerintah. Ah sayang sekali, ini yang agak mengecewakan. Tapi layanan dan kesigapan petugas oke semua, malah lebih ramah dari Jakarta.


Kesimpulan: akan datang kembali jika membutuhkan, tapi semoga ga ada keluhan kesehatan apapun deh. Amin.


Mlekom,

AZ


Wednesday, December 21, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 5:39:00 PM | No comments

Serba Dua Ribu!

 

Hari ini temanya serba dua ribu :)

Pagi banget tadi naik Gojek ke stasiun Gambir untuk ketemu teman. Dengan pembayaran non-tunai Go Pay, aku hanya membayar Rp 2.000. Kusempatkan pula mengambil uang pengembalian dari tiket kereta yang batal kunaiki, setelah fotokopi KTP seharga Rp 2.000.

Pengalaman pertama gigi sakit.
Dari stasiun pengennya langsung berobat. Udah tiga hari ini gusi berasa ga nyaman, ini pengalaman sakit gigi pertamaku. Jadi ingat omongan dokter Desember tahun lalu waktu nambal gigi: 

Ini grahamnya tumbuh ke dalam, akan sakit. Mau dicabut sekalian ga, kan ditanggung kantor. Kujawab, nanti aja dok kalo pulang Natalan. dokternya tanya aku tinggal di mana, berapa lama di Yogya. "Oh, kalo baru cabut gigi baiknya jangan naik pesawat dulu karena gravitasi akan buat gusinya sakit sekali," jelasnya ketika kubilang akan berangkat ke Jakarta malam itu.

Nah semalam karena ga bisa tidur sakit sakitnya ni gusi yang kaya lengket ke gigi ato langit-langit, aku baca-baca informasi tentang "operasi gigi". Ada yang bilang biayanga 1,5 juta per gigi, paling banyak yang sebut Rp 3 juta. Kalau pakai asuransi, preminya langsung habis donk yes! Padahal pasca perawatannya ada lagi, yaitu buka benang jahitan gusi.

Tetiba aja terlintas kata "pus kes mas". Malam itu nemu sedikit informasi, harga per gigi cuma 300 ribu, tapi ini hanya untuk cabut normal. Cabut bermasalah harus dengan tindakan operasi, yang menangani harus Spesialis Bedah Mulut--ini ga ada di Puskesmas. Ya udah lah ya, yang penting besok pipi ga bengkak karena lusa kantor gawe acara besar.

Sayangnya ga bisa langsung berobat, di stasiun tadi dapat imel terkait kerjaan. Maka aku nongkrong aja di Perpustakaan Daerah di kompleks Taman Ismail Marzuki. Naik Kopaja Rp 2.000 saja sebab jarak sangat dekat.

Ketika sedang kerja, batre leptop nunjukin tanda kritis. Langsung pesan Gojek lagi, ambil charger di rumah kena Rp 2.000 dengan Go Pay. Bayar parkir kompleks TIM Rp 2.000 lagi karena aku dijemput sampai ke teras perpus. Lalu bayar jumlah sama saat minta pak Gojek anter saya kembali ke perpus. Dilebihin sih, lebihin sebanyak dua kali lagi PP pulang.

Pengalaman pertama pakai layanan Puskesmas
Kerjaan kelar, pesan Gojek lagi ke Puskesmas, masih seharga itu, Rp 2.000Puskesmas Menteng paling dekat dari sana. Gedungnya bagus, bersih dan modern. Ada lima lantai, kalau aku ga silap.


Begitu masuk terpampang jenis tindakan dan perawatan yang dilayani Puskesmas ini, lengkap dengan daftar harganya. Mulai persalinan, imunisasi, radiologi, fisioterapi, radiologi, ragam pemeriksaan darah, HIV, dll sampe home-care. Ada ruang rawat inapnya juga!

Untuk seluruh tindakan di poli Gigi (banyak istilah yang aku kudu gugling untuk tahu artinya), paling mahal hanya 25rb :) Jika nantinya ga bisa ditangani di sini, aku sudah cari tahu nama fasilitas kesehatan yang akan kutuju: Rumah Sakit Khusus Gigi dan Mulut milik Fakultas Ilmu Kedokteran Gigi. Tadinya banget nih, udah berbulan-bulan lalu niatin operasinya di Yogya aja pas pulang agak lama. Diniatin liburan akhir tahun ini sih, tapi ya kadung sakitnya sekarang.

"Adek tunggu di Yogya aja operasinya. Nanti kudu makan bubur, siapa yang bikin? Kalo demam karena gusinya bengkak paska oprasi, repot nanti," kata mama di ujung telp. Ku-OK-in, bilang mau minta obat penghilang rasa sakit aja karna aku pun ga mau dioprasi segera sebab takut besok ga bisa kerja huhuhu. Lagian lusa udah sampe Yogya lagi.

"Giginya tumbuh, gusi belom kebuka. Ini ga bisa ditindak dulu sampe bengkaknya sembuh. Nanti seminggu bisa dibantu membuka gusinya, tapi terbuka alami juga bisa karena tinggal sedikit lagi kok. Tahan aja nyerinya sedikit lagi." Intinya ga perlu dioperasi. Alhamdulillah :*

Pengalaman pertama berobat dengan biaya total Rp 2.000!
Salah satu penerima manfaat program kerjaanku adalah Puskesmas. Aku tahu benar bagaimana perubahan yang dilakukan Puskesmas di berbagai pelosok negeri untuk memberikan pelayanan terbaik. Tapi aku tak sekalipun pernah menggunakan layanan perawatan Puskesmas, meski untuk sekadar batuk-pilek.

Kecuali waktu di Wajo Sulsel minta dokter resepin obat yang ga aku bawa, atau bosku ketika liputan di Talun Kenas Sumut harus mendapat perawatan akibat kuku kakinya tercabut roda koper. Keduanya di Puskesmas tempat kami liputan.


Oh ada lagi waktu aku kecil di Kutacane Aceh Tenggara. Perawatan untuk bibirku yang sompel (bekasnya masih ada donk!) akibat jatuh dari sepeda, mengeluarkan duri di telapak kaki akibat maen di kebon, adekku yang dipotong bisulnya (sering nih liat orang bisulan jaman itu). Apa lagi ya?


Total kurang 1,5 jam sejak mendaftar sampai ambil obat. Untuk pendaftaran bayar Rp 2.000. Untuk obat antibiotik, pereda bengkak dan nyeri ini? Gratis! Aku sampai tanyakan dua kali :) Jadi seluruh layanan lengkap ini berharga Rp 2.000! Itu ga pake BPJS loh, karna aku malas ga sempat ngurus.


Puskesmas sebagus ini apakah hanya ada di Jakarta? Aku ga tau deh. Tapi untuk perawatan kesehatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir, 300 Puskesmas di wilayah kerja program kantorku memiliki sarana yang lebih bagus dari Puskesmas Menteng ini, dengan kualitas prasarana dan SDM yang tak kalah jauh juga. *ngalemi kerjaane dhewe*


Ah, maha suci engkau yang menciptakan Puskesmas dan seisinya!


*Dan sekarang udah sampe kantor, kudu masukin laporan perjalanan ke Finance, hiks. Gegara mo tutup tahun dan hari kerja kami di tahun ini tinggal dua hari hiks hiks hiks.

Mlekom,
AZ


Thursday, December 15, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:59:00 PM | No comments

Proyek Pengurangan Sampah Konsumsi Pribadi


Udah tiga tahun ini terobsesi dengan proyek beres-beres (decluttering). Gegara itu, aku jadi bertanya-tanya mungkin ga sih kita tidak nyampah? Nyampah dalam artian tidak sekadar membuang sampah pada tempatnya, namun tidak menghasilkan sampah.


Jawabannya: Mungkin! Ini yang kudapat dari hasil melongok dunia maya. Salah satu yang inspiratif menurutku adalah upaya mbak-mbak ini yan selama tiga tahun berhasil menjadikan dirinya bukan kontributor nyampah. Nah lo gimana caranya ya. Padahal bahkan nota kasir pun dia ga akan terima, juga hanya membeli baju bekas dan membuat sendiri makanan dan bahan rumah tangga (sabun, sampo) yang jika dibeli menggunakan kemasan plastik. Waaa :|


Aku sih pasti kesulitan banget ya kalau sampai tidak menerima nota pembayaran (sebab masih gunakan ini untuk catatan pengeluaran pribadi), ga memungkinkan buat sampo sendiri, dan sebagainya. Ya, meskipun para environmentalist ini bilang: Apa sih yang ga mungkin? Tinggal kamu belajar, usaha, lalu menerapkan secara sungguh-sungguh.


Maaf, masih sulit buatku. Aku bahkan belum bisa lepas dari air mineral kemasan (meski berupa galon yang isinya kutuang ke tumbler dan sejenisnya, karena belum bisa minum air yang dimasak sendiri kecuali untuk kopi, teh, sirup dll.


Aku juga masih kesulitan meniadakan konsumsi tisu. Entah di rumah, kantor maupun di jalan. Duh, berattttttttttttttt :( Tapi sejak hari kemarin, jumlah tisu yang kupakai lalu kugunakan berkurang drastis hingga setengah dari pemakaian di hari sebelumnya dan sebelum-sebelumnya. Ga percaya? Aku hitung sih, biar valid hihihi.


Kucoba hilangkan kebiasaan bawa bekal makanan dari rumah ke kantor. Biasanya untuk makanan berkuah, aku masukkan makanan ke dalam plastik bening untuk membungkus itu sebelum dimasukkan ke dalam tempat makanan. Sebelum memasukkan tempat makanan tersebut ke dalam tas, aku membungkusnya dengan plastik kresek agar ketika tumpah tidak mengenai tas.




Nah, kemarin aku membawa makanan tanpa satupun plastik non reuseable. Lalu sorenya aku beli siomay dengan membawa tempat makanan sendiri--jadilah sepanjang jalan menuju rumah (jalan kaki) menenteng itu kotak makanan :)


Abang somay bingung ketika kujawab tidak ketika ia tawarkan: plastik apa streofoam? Bumbunya dipisah di plastik? Pake garpu? 


Tapi dengan bangga kujelaskan: Saya sedang mengurangi sampah, pak.


Hari pertama ini, menurutku: Sukses!

Alkamdulila hari ini diberi kemudahan dalam laksanaken calon #resolusi2017 tersebut. Ih bangga ih! :p

Sebenarnya pasanganku sangat ketat untuk urusan sampah dan nyampah ini. Dia bawa sendiri minumnya dari air yang direbus di rumah, dia bawa handuk kecil untuk gantikan tisu, tidak menerima plastik pembawa barang belanjaan, dan masih banyak lagi. Dari ajarannya itu, aku hanya berhasil membawa tas belanja sendiri demi tidak menerima plastik kresek--meskipun tetap menggunakan kresek ketika membeli bahan basah seperti ikan. Juga menolak membungkus makanan dengan streofoam--meski menerima kertas nasi. Aku juga tidak menerima sendok plastik dan sumpit kayu. Tapi masih gunakan gelas kertas untuk minuman.


Soal mengurangi sampah pribadi ini, aku merasa tertohok ketika seorang teman mempertanyakan mengapa aku masih naik taksi sendirian, bukannya memilih naik bus. Buatku itu ga masuk akal, sebab aku butuh cepat untuk ke bandara. Namun berbagai penjelasan yang kubaca terkait kontribusi kendaraan pribadi (termasuk taksi) terkait gas emisi sukses membuatku tertohok. 


Temanku yang lain bahkan lebih memilih menggunakan bus untuk mudik ke kampungnya di Sumatra dibanding pesawat. Wah ini aliran tingkat tinggi ya, aku mah kasta sudra dalam proyek pengurangan sampah ini. Oh ya satu pelajaran dari ini yang akan selalu kuingat: "Jangan pernah merendahkan orang lain atas usahanya. Jika ia baru bisa segitu, hargai. Setidaknya ia sedang berusaha menjadi lebih baik". Begitu, bukan? :)


Aku akan terus kabarkan perkembangan proyek ini. Semoga istiqomah! :)


Mlekom,

AZ

Tuesday, December 13, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:35:00 AM | No comments

Tanpa Es, Tanpa Senyum, Tanpa Kata


Pramugari (P) dan Adriani (A).


P: Minumnya apa buk? 

A: Susu dingin, trims.
P: (sodori gelas isi susu tanpa es, tanpa senyum, tanpa kata)
A: Trims, boleh minta es, mba?
P: (tanpa kata, tanpa senyum, dengan mata dan gerakan tangan yang ngomong "elo tu nyusahin aja sih?")
A: Trimakasih ya mbak.

Mbanya ko begitu ya... :(

Ini pengalaman pertamaku mendapat perlakuan seperti itu di maskapai biru ini. Kondisi cuaca (itu gambar Jakarta mendung pagi ini) yang sempat bikin goyang dombret di atas tadi, buat sedihku pada Mba P teralihkan :)

Mlekom,

AZ


Monday, December 5, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:51:00 PM | No comments

Kutubaru Biru


Budhe adalah istri paman. Paman adalah abang mamaku. Keterangan ini penting untuk menjelaskan isi cerita :)


Pola kutubaru ini dibuat oleh Budhe. Budhe mendapat warisan pola dari orangtuanya. Orangtuanya mendapat pola sebagai warisan dari orangtuanya. Begitu seterusnya, hingga keluarga ini pernah dikenal sebagai salah satu penjahit kebaya yang diperhitungkan di Solo. ♥♥♥ 


Gitu ajah.


Mlekom,

AZ




Thursday, October 20, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:26:00 AM | No comments

Visitor

Ini bulan kedua saya menjadi "Visitor" di salah satu gedung perkantoran. Untuk dapat naik ke lantai yang dituju, saya harus menukarkan identitas diri dengan kartu pass yang harus di-tap di lift.

Kartu identitas yang diminta adalah kartu yang ada fotonya. Jadi, Kartu Keluarga, kartu BPJS, kartu NPWP, kartu mileage pesawat, apalagi kartu bank gambar Taz-Mania itu ga bakal laku.


Salah tiga kartu dengan cetakan muka yang saya punya adalah: KTP, SIM C dan SIM A. Jadi selama dua bulan ini saya tukarkan KTP dengan akses lift. Awalnya KTP saya tinggal tiap pagi, diambil lagi sore. Kemudian KTP saya tukar tiap senin pagi, lalu ambil kembali tiap jumat sore. Suatu hari pernah sampai kesulitan naik pesawat karena lupa ambil KTP di resepsionis :|


Masalahnya, KTP saya kadaluarsa Mei kemaren. Saya baru sadar senin lalu ketika mau tukar kartu akses lift, ditolak resepsionis gedung karena sudah kadaluarsa. Saya beneran ga tau, soale sekian kali dipake check in dan boarding pesawat boleh tuh!


Kedua SIM ga pernah diperpanjang sejak jutaan tahun lalu (karena belakangan ga pernah pake kendaraan pribadi... sebab saya ga punya kendaraan pribadi, halah).


Sejak KTP saya ketahuan basi, resepsionis dan sekuriti (yang  beberapa diantaranya kenal saya eh saya kenal) bantu bukakan akses lift ke lantai yang saya tuju. "Ga usah dikasih (kartunya) ya, dibukakan saja," kata mereka.


Demi tidak merepotkan mereka, ketika tiba di lobi gedung saya telp teman selantai yang saya tahu datang lebih pagi. Tidak repotkan petugas gedung iya, repotin teman juga iya. Hih! Nah, saya senang jika di lobi ketemu teman selantai, bisa nebeng akses lift. Beberapa kali saya nyodorin kepala ke dalam lift yang pintunya hampir ditutup: Maaf, ada yang ke lantai 21? #murahan


Kalau mau turun untuk makan siang, saya selalu pinjam ke teman, dikembalikan setelah saya naik lagi :p


Maka malam tadi saya bulatkan tekad. Membawa identitas lain yang bergambar muka saya untuk ditukar dengan akses lift. Sudah saya cek tanggal kadaluarsanya: Januari 2017.


Pagi ini Mba Resepsionis bilang: Oh iya, KTP-nya belum diperpanjang ya buk?


Sampai ketemu lagi jumat sore nanti ya, Por!

#soalkartu

Mlekom,

AZ

Thursday, October 6, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:47:00 AM | No comments

Jelang Tiga per Empat Malam


Tanggal kemarin di jam segini pada tahun lalu. Aku terduduk lemas di Stasiun Bandung, menunggu kereta ke arah timur. Setelah obrolan siang itu.

"Lagi di mana?

"Bandung, masak pertanyaannya diulang2 sih."
"Ga mampir ke Yogya?"
Deg. Jantungku berdetak cepat.
"Cencen kenapa mas?"
"Cencen sudah pergi..."
"Cencen kenapa mas???"
"Cencen sudah ninggalin kita."

Air mata pecah, tenggorokan berat, sesenggukan membuat lemas. Di kereta terus merutuk diri, sebab akhir pekan lalu tak pulang hanya untuk hadiri reuni.


"Orangtua macam apa aku, anak sakit bukannya datang..."

"Kamu kan baru saja pulang. Ga ada yang salah, Cencen tau kok kalau kita sayang sama dia."

Setelah sebungkus tisu habis di perjalanan, jelang tiga per empat malam anak Cencen kami kuburkan. "Maaf ya sayang, kamu harus menunggu lama sebelum mendapat tempat bobok baru. Semoga sama hangatnya dengan badan bapakmu yang sering jadi tumpuan tidurmu itu."

__
Setahun kini. 
Apa kabarmu di sana, nak? Sampaikan salam kami untuk dua saudaramu yang sudah lebih dahulu bobok di sana ya, Kengkeng dan Ngokngok. Kami janji untuk menemui kalian lagi di akhir perjalanan nanti.

Oh ya perkenalkan Zorro. Dia gantikan posisimu di rumah--meski di hati kami, kamu selalu ada. Zorro tak dapat melihat, tapi seperti kamu--dia senang berkelana dan pulang ketika bapak kalian tiba. Di tempat lain, kami juga memelihara Ponpon yang adalah adik sekandungan Zorro. Seperti kamu dan adik2mu, Cen, mereka berdua sangat ganteng :)


Ah. Menuliskan cerita ini hujan di mataku, Cen. Seperti pagi tagi ketika kulihat videomu jelang dijemput ke tempat bobok yang baru ini. Yanh penting kamu baik kan, Cen? Masih ganteng, kan? Aku tahu kamu pasti begitu.


Cencen, tolong sampaikan salam kami kepada malaikat yang menemanimu tidur di sana. Kami sayang kamu, nak.


~ Pancen dan Mancen (bapake dan mamake Cencen)


Mlekom,

AZ

Wednesday, September 28, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 10:39:00 AM | No comments

Duo Puluah Ciek




Di lobby gedung kantor.


A: Ey, Da.

U: Ey Ni, dari ma?
A: Bali makan.
A: *kosrek2 tas tangan*
B: Indak ado (kartu) access, Ni?
A: Ado, dima yo. Candonyo tingga...
B: Lantai bara?
A: Duo puluah ciek.
B: *tetiba pergi*
A: *cari-cari nomor telp orang kantor, mo nelp minta turun*
B: Masuak lah Ni. (dia pinjem kartu akses ke resepsionis donkkkk)
A: Omak, makasih bana la yo da.
B: (ke orang yang nanya dia mau ke mana) Ko uni awak ko.

Itu mas-mas eh uda-uda keamanan di gedung kantor. Suatu hari nunggu taksi sama teman urang awak yang kenal dia. Jadi lah aku kenal juga. Sekarang tiap lihat dia pasti nyapa, "Ey ni, ba'a kaba?" Aku juga donk, "Ey, Da!"


Ga ngerti ya? Kesian...


Gambar angka 2 dari sini. Gambar angka 1 dari sini. Mlekom,

AZ

Sunday, September 4, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 5:19:00 PM | No comments

Kurang Apa Kita ke Negara?


Tadi pagi baca postingan pak Singgih Susilo Kartono di atas. Jadi teringat...

Aku pernah bikin presentasi untuk salah satu kementerian yang akan bertemu sebuah badan dunia di forum internasional. Bahan acuan dari mereka hanya 5 slide presentasi berbentuk ppt yang... ya kelen taulah macamana. Ngerjainnya sambil ketawa-tawa... yang menguasai materi kan aku (iya ini sedang nyombong kelewatan) kenapa yang diutus mereka ya?

Giliran aku bikin presentasi sendiri (bukan dibikinin orang lain) untuk konferensi internasional, aku kudu mecah celengan yang kutabung dengan keringat dan air mata (yak mulai lebay) plus nyari sponsor sendiri (termasuk dari pak Julipan) untuk membeli tiket ke tempat konfrensi. Meskipun aku ada di forum itu untuk ceritakan keberhasilan Indonesia....

Kalo dipikir-pikir, kurang apa coba kita ke negara ini? "Kurang sabar," kata temenku :(

*Disclaimer: this post is personal.

Mlekom,
AZ


Thursday, August 25, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 4:44:00 PM | No comments

Not A Reenactment Video: Weiner


There is a powerful women behind your success. People says so. Wiener story on this documentary video explains everything.

Family with a success position in the political world, how far the politician really understand that he must sacrifice everything for it: family, dignity, position! Sex scandal certainly be the brunt of this.

At the first time, I thought this is a kind of video reenactment, when I see the cinematography, setting, costumes, etc. and so on is wonderful. But no, it is the REAL event. Yes it is, real footage with the actors themselves.

I was googling for "Huma Abedin" and "Anthony Weiner". There they are!

This documentary is something that really need to be watched, by anyone who wants to go forward to that world! But this piece from two days ago is something you need to be considered!

Mlekom,
AZ

Tuesday, August 23, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 9:43:00 PM | No comments

Lidah Udik

Tadi siang makan di restoran yang terletak di salah satu pusat perbelanjaan megah di Jakarta, ga enak padahal sudah pasti mahal apalagi ditraktir sebuah brand global. [Tim yg nraktir juga blg: di sini mah yg enak cuma gado2]

Malam ini makan nasi uduk yang saya masak sendiri di #raiskuker, enak banget padahal cuma modal beras, bumbu dapur dan santan yang semuanya sangat murah.

Lidah saya yang suka uduk ini memang udik... Cen ndeso tenan!

Ini menu makanan traktirannya.

Mlekom,
AZ

Friday, August 19, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:01:00 PM | No comments

Cara Mengembalikan Foto yang Hilang dari SD Card

Pekan lalu aku berkesempatan menyaksikan tari sakral dari Kraton Surakarta Hadiningrat. Bedhaya namanya. Tarian sakral ini dulunya hanya boleh ditonton oleh keluarga kerajaan, kini ketika kraton menampilkan tarian ini ketika menyambut tamunya.

Seumur-umur memang baru sekali melihat pertunjukan tari bedhaya secara langsung. Pernah menonton tarian ini di TVRI Yogya ketika menyiarkan langsung pernikahan anak Sultan Kraton Yogyakarta Hadiningrat.

Intinya, aku bahagia sekali malam itu. Sampe SD card penuh dioakai untukmotret dan videokan tariannya. Beberapa hari kemudian setibanya di Jakarta, kusalin foto-fotonya ke komputer. Eh kemarin foto-fotonya kok ya hilang! :'(

Duh kebayang kan sedihnya. Kapan lagi dapat kesempatan menjadi tamu kehormatan Kraton Surakarta seperti kemarin itu...

Lalu... gugled, tentu saja! Dan ya ya, setelah mencoba sekian saran di sana, ini yang 'mempan' mengembalikan file-file tersebut: Zero Assumption Recovery (ZAR X) yang infonya kuperoleh dari sini.

Setelah unduh perangkat lunaknya di sini, aku tinggal membuka aplikasinya. Masukkan SD card yang fotonya terhapus itu. Lalu pilih "Image Recovery" --> pilih "Disk and Partition" yang akan dikembalikan --> klik "Next". 

Tunggu deh sampai recovery selesai. Lalu pilih "Location" folder yang akan dijadikan tempat menyimpan di komputer. Selesai!

Soal berapa banyak atau berapa lama (tanggal pengambilan gambar) foto yang bisa dikembalikan, aku ga tahu. Tapi foto pekan lalu yang saya cari sudah pulih semua, salah satunya foto di atas.

Selamat mencoba!

Mlekom,
AZ

Wednesday, August 17, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:52:00 PM | No comments

Mengisi Kemerdekaan, Hari Ini


Saya mengisi kemerdekaan dengan:

  1. Menulis cerpen (uhuk!)
  2. Bikin kue bolu 
  3. Beberes
  4. Masak ikan goreng & sayur lodeh 
  5. Silaturahmi ke teman 
  6. Baca buku 
  7. Pesbukan. Twitteran. IGan. 
Itu seharian tadi.

Alhamdulillah merdeka dalam berkarya, berkeluh-kesah, bertemu dan berkata tidak. Saya diberi kesempatan untuk mengutarakan yang ingin diutarakan. Diperbolehkan melakukan hal yang disuka. Dibebaskan untuk bertemu dengan siapa saja. Bahkan didukung ketika saya tidak ingin mengerjakan apapun.

Keseharianmu sudah merdeka? 
#‎RI71‬ ‪#‎Merdeka

Bolu yang kubikin hari ini.

Mlekom,
AZ

Sunday, August 14, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:00:00 PM | No comments

Lelaki Muda yang Duduk Bersila di Bangku Tunggal


Dengan susah payah kunaiki tangga kereta. Dua koper di tangan menjadi sebab sulitnya aku bergerak. Koper ini nantinya akan kubawa ke bandara.

Seluruh kursi di sekitar tempatku berdiri penuh. Memang pada tiket kereta lokal jarak pendek ini tertulis "tanpa tempat duduk", yang berarti aku harus berebut dengan ratusan orang untuk mendapatkan sebuah kursi.

Tak ada tanda-tanda kursi kosong. Dengan dua koper ini, aku tak mungkin pula bergeser untuk mencari kursi kosong ke gerbong lain. Maka kusandarkan badan di tiang penyangga, dengan kedua koper kuletakkan menyandar kaki. Di balik tiang ada sebuah bangku tunggal (single seat) yang diduduki lelaki muda. Kedua kakinya diletakkan di atas kursi, bersila.

Di depan lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, berdiri seorang bapak yang mengaitkan tanggannya ke dua bocah usia sekolah dasar. Bapak-anak ini clingak-clinguk mencari bangku kosong yang dapat mereka duduki. Tak ada. Sebagaimana aku, mereka pun mencari sandaran. 

Pada lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal ini, rasanya ingin kutanyakan: Apakah boleh jika bangkunya diberikan kepada bapak yang membawa anak itu?

Tapi kuurungkan. Entah mengapa.

Kereta jalan. Tak lama terdengar lantunan ayat suci. Merdu, sebagaimana yang sering kudengar dari rumah ibadah di lingkungan kami. Keras, di tempat yang tak semestinya ini. Suara merdu nan keras yang bersahutan dengan deru laju kereta. Tak hanya satu, tapi dua. Satu lantunan keluar dari lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal, satu lantunan lain dari bangku di sampingku yang diduduki perempuan bercadar hitam. Keduanya memegang kitab yang sama dengan kondisi terbuka sebab sedang dibaca.

Bagiku, saking sucinya kitab itu, aku merasa membutuhkan privasi yang lebih ketika aku 'bercinta' dengannya. Kurang afdol rasanya membaca di tengah kerumunan orang yang merasakan ketidaknyamanan, sementara aku bisa duduk nyaman membacanya. Tak sudi pula aku membacanya dengan suara keras ketika aku berada di tempat umum yang bukan tempat ibadah, kitab ini terlalu suci untuk mengganggu ketenangan orang lain.

Namun justru itulah yang terjadi. 

Belum setengah jarak kami tempuh dalam perjalanan sejam ini, kudengar suara lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara kepada seorang lelaki berkulit putih bermata sipit. Lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Bahasa Indonesia, bahasa Arab. Terus begitu. 

Kepada lelaki berkulit putih bermata sipit, si lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal mempertanyakan soal agama. Memang lelaki berkulit putih bermata sipit sedang membaca buku tentang sebuah agama yang berbeda dengan agama lelaki muda yang duduk di bangku tunggal.

Apakah anda benar-benar membaca al-kitab dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa hanya Islam lah agama yang dirahmati Allah?

Lelaki muda yang duduk di bangku tunggal terus berbicara dengan suara yang dapat didengar penumpang di setengah gerbong kereta. Dalam bahasa Indonesia, lalu bahasa Arab. Lalu bahasa Indonesia, dan bahasa Arab. Begitu terus hingga kereta kami tiba di stasiun tujuan.

Meski sesekali ia anggukkan kepala, lelaki berkulit putih bermata sipit terlihat tak nyaman dengan obrolan itu. Tentu saja. Laki muda yang duduk bersila di bangku tunggal terbiasa membicarakan tentang keagamaan di mana pun, kapan pun. Dari penampilannya yang tampak seperti pekerja kantoran itu, lelaki berkulit putih bermata sipit ini tampak tak siap. Bukan 'lawan' yang sebanding.

Kubayangkan ketika aku sedang melakukan aktivitas keseharian, seperti naik kereta api, bertemu dengan seseorang dari negara yang sama denganku yang menanyakan:

Apakah anda benar-benar membaca kitab suci dan memahami isinya?
Tahukah anda bahwa Islam adalah agama pengembangan, bukan agama asli yang diturunkan Tuhan?

Aku pasti tidak nyaman. Bukankah agama/ajaran/kepercayaan adalah hal paling pribadi yang dianut tiap manusia? Bukankah ini merupakan urusan masing-masing manusia dengan penciptanya (hambluminallah)?

Lain hal jika akulah yang membuka obrolan tentang itu. Atau ketika aku menghadiri sebuah diskusi keagamaan. Itu pun rasanya tak elok jika ada kesan apalagi pernyataan yang menyudutkan keyakinan orang lain.

Dari pada mempertanyakan mengapa orang lain memeluk agama yang tidak sama dengan agamamu ( ingat lakum diinukum wa liyadiiin), lebih baik mengoreksi peran sosialmu (kewajiban hablumminannas) ketika tidak memberikan bangku pada orang yang lebih berhak, ketika mengganggu ketenangan orang lain di kendaraan umum, dan ketika 'menyerang' keyakinan orang lain di saat yang tidak tepat.

Tentang lelaki berkulit putih bermata sipit ini, temanku memberi komentar:
"Lagi apes aja!". Semoga Allah merahmatinya, juga merahmati lelaki muda yang duduk bersila di bangku tunggal.

Mari mendoakan agar segala tindak tanduk dan ibadah kita disempurnakanNya.

Gambar dari sini.

Mlekom,
AZ

Thursday, June 16, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 3:50:00 PM | No comments

Jadi Anak Saya Mau Mati?


Kasus Berat Membuat Puskesmas Plumbon Merasa Tertantang


Pada sebuah malam di bulan ketujuh kehamilannya, Nurlaila (21) merasa sakit perut. Rasa sakit ini terus berlanjut hingga pagi hari. Ibu mertua pun menganjurkan Nurlaila untuk memeriksakan kandungannya. 
Hari itu, 22 Maret 2016, Nurlaila diantar Joko Triyono (26) ke Puskesmas Plumbon. Pasangan ini sekaligus ingin melakukan pemeriksaan USG untuk melihat jenis kelamin bayinya.

“Saat kami periksa di Poli Kesehatan Ibu dan Anak, ternyata banyinya sudah siap dilahirkan,” jelas Ida Saidah, Bidan Koordinator Puskesmas Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Selama ini Nurlaila memang jarang memeriksakan kandungan, hanya beberapa kali di Bidan Desa di kampungnya. Kampungnya berjarak cukup jauh dari Puskesmas Plumbon. 


Nurlaila segera dipindah ke Ruang Bersalin. dr Hijrah Broztidadi, Dokter PONED yang memeriksanya, mendapati Nurlaila dengan kondisi bukaan lengkap. Maka lahirlah Silvi, dengan kondisi prematur dengan berat badan 1.700 gram. 
Ia hanya menangis sebentar, lalu diam. Ini merupakan tanda kesulitan bernafas pada bayi.

Bayi Silvvi segera jalani perawatan penanganan bayi baru lahir berat rendah (BLLR). Hingga dua jam kemudian, ia tetap tidak bernafas menunjukkan tanda sianosis. Sianosis merupakan gejala bronkopneumonia atau peradangan jaringan paru yang menyebabkan sesak nafas.

Bronkopneumonia menjadi salah satu penyebab terbesar tingginya angka kematian bayi baru lahir di dunia. “Tonus ototnya lemah, jadi bayi terlihat lemas,” jelas dr Hijrah. Pemeriksaan GDS pun dilakukan, dengan hasil hanya 24 mg/desiliter.

Silvi dirawat di inkubator, diberi obat melalui infus, serta dijadwalkan pemberian ASI. Keesokan harinya, berat badannya turun menjadi 1500 gram. Lalu sesuai standar, pemeriksaan GDS pun dilakukan sevara rutin. Di hari ketiga, berar badanya meningkat menjadi 1650 gram dengan GDS yang sudah normal. 


Keluarga pun meminta persetujuan Puskesmas agar dapat membawa pulang Silvi. Selain inform concent, Puskesmas juga menginformasikan keluarga cara merawat Silvi. Dua pekan setelah pulang ke rumah, Silvi dibawa kembali ke Puskesmas. Kali ini ia mengalami bronkopnemoni atau sesak nafas dengan niamoni. “Kami segera lakukan stabilisasi, dan mempersiapkan proses rujukan,” jelas Ida.


Namun keluarga menolak merujuk Silvi, sebab mereka tidak memiliki BPJS dan tak mampu membayar biaya rumah sakit. Maka Puskesmas kembali berikan inform concent yang menyatakan bahwa keluarga siap dengan apapun yang terjadi kepada SIlvi setelah ditandatangani di Puskemas.


“Kami lakukan perawatan bronkopnomeni dan BBLR dengan posisi bayi di inkubator,” jelas dr Hijrah. Empat hari kemudian, berat badannya meningkat pesat menjadi 2000 gram dan stabil dari bronkopnemoni. Sebelum Nurlaila membawa bayinya pulang, sekali lagi Puskesmas melakukan konseling tentang cara perawatan bayi. Termasuk cara pemberian ASI yang benar Metode Kangguru yang menjadi protap EMAS.


EMAS atau Expanding Maternal and Neonatal Survival merupakan program yang didanai USAID untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Meningkatkan pengetahuan staf Puskesmas merupakan salah satu komponen utama yang dilakukan EMAS. EMAS mulai mendampingi Puskesmas Plumbon di tahun 2012.


“Tiap selesai memenuhi satu jadwal, saya tinggal contreng di jadwal pemberian ASI yang diberi Puskesmas,” kata Nurlaila. “Ibu Laila sangat cerdas, ia selalu mematuhi jadwal sehingga bayinya sehat,” kata dr Hijrah. Bidan Desa pun selalu memantau perkembangan Silvi. “Tiap selesai beraktivitas, saya sempatkan mengunjungi rumah pasien untuk memantau perkembangannya. Setidaknya tiga hari sekali hingga bayinya benar-benar sehat,” kata Farhatun Nufus, Bidan Desa.


Ketika berat badan bayinya mencapai 2500 gram, Farhatun mengantar Nurlaila ke Puskesmas untuk imunisasi. Saat berkunjung ke Ruang Bersalin, ia membaca sebuah poster berisi jobaid tentang penanganan BBLR. “Ternyata saat itu anak saya mau mati, ya?” tanyanya kaget pada bidan di sana. Jobaid merupakan salah satu  protap EMAS, berisi informasi cara penanganan suatu komplikasi dalam persalinan dan bayi baru lahir yang akan membantu petugas Puskesmas di tempat tindakan.


Nurlaila sangat berterimakasih pada Puskesmas Plumbon yang telah menyelamatkan nyawa putrinya. Ini adalah anak pertamanya dari kehamilan ketiga, dengan dua bayi di kehamilan sebelumnya meninggal dunia setelah dilahirkan prematur. 


Bagi Puskesmas Plumbon, menangani suatu kasus berat membuat tim makin semangat sebab kemampuannya tertantang. “Ketika kami berhasil menanganinya, kami bangga sebab ada satu nyawa lagi yang terselamatkan,” jelas dr Hijrah.


Gambar: Nurlaila bersama tim Puskesmas Plumbon.


Adriani Zulivan


Tuesday, May 31, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:06:00 PM | No comments

Pak Presiden Joko Widodo, Selamatkan Kami


Jika hari ini aku ada di Yogya, aku pasti akan makan di warungnya Mas Jody. Tentu karena di hari ini, warung itu mengajak pelanggannya untuk sejenak memikirkan dampak dari asap rokok. Aku senang ada pengusaha yang memikirkan hajat hidup orang banyak, hal yang seringkali terlupa oleh pemerintahku.

Sebagai orang Indonesia, aku agak malu ketika mengetahui betapa pemerintahku alpa menjadikan kesehatan publik sebagai salah satu hal yang semestinya diutamakan.

Indonesia --negara yang di dalamnya terdapat satu dari lima pabrik produsen rokok terbesar di dunia, dengan angka perokok yang juga terbesar kelima di dunia-- seringkali lupa, bahwa menandatangani Framework Convention on Tobacco Control (FTTC) sama dengan menyelamatkan jutaan warganya.

Hari ini sekali lagi, aku mengajak pemerintahku untuk tidak lupa. Apa guna Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) diperingati pemerintahku di Kementerian Kesehatan setiap tahun, jika menterinya selalu alpa?

Sudahlah tentang devisa yang tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung negara untuk pengobatan. Sudahlah soal warisan budaya, yang semua orang paham bahwa warisan buruk harus disudahi. Sudahlah!

Pertanyaanya: Antara pemerintah dan pemilik warung, siapa yang lebih peduli pada hajat hidup orang banyak?

Pak Presiden Joko Widodo, selamat kami.

Mlekom,
AZ

Thursday, May 12, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:37:00 PM | No comments

Dua Mata Zoro

This is Zorro, my sister's favourite. She gave him this name since he has black hair like tuxedo. Real Zorro (in the movie) wears tuxedo, right?

He is a cat, belonging to our neighbor. But he, along with another cat, named Koneng, come to our house from dawn till night. They both eat there, then go somewhere on bedtime--maybe they return home to the owner.

They came to us since they were small, almost a year to this day.

Early month this May, Zorro did not come to our home for two days. When he came, I saw his eyes were red and there were plenty of dried mucus in the corner of his eye. I'm sure he's eyes's sore, but we did't know why.

Today, four days after he returned, the vet said that his eyes could no longer see. The exact cause is unknown. I just remember that he did not know where's his plate, so he just rely on smell to find foods.

Please help us to keep Zorro happy as he was, eventhough his two eyes could no longer see. We love you, Zorro!

Mlekom,
AZ



Wednesday, May 11, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:49:00 AM | No comments

Pak Pin: Anak, Murid, Penggemar, dan Buku

Ini anak Pin, Afif Pranaya Jati. Ini murid Pak Pin, Elanto Wijoyono. Ini pengagum Pak Pin, Adriani Zulivan. Dan ini buku tulisan Pak Pin yang baru saja diterbitkan.

Pak Pin adalah salah satu staf pengajar di Jurusan Arkeologi UGM. Saya beruntung bisa kenal Mas Afif lalu bertemu ayahnya, Pak Pin. Benar kata Mas Joyo, beliau adalah dosen yang benar-benar menguasai materi kuliahnya.
Suatu hari Pak Pin bersedia menemui kami, dan bercerita banyak tentang candi. 

Beliau merupakan salah seorang ahli yang ditunjuk BPCB untuk melakukan ekskavasi sejumlah situs yang diduga berbentuk candi di beberapa kawasan.
Salah satunya adalah Ratu Boko, yang diyakini beliau sebagai komplek pemukiman atau bukan tempat ibadah/pemujaan.

Di masa pensiunnya, Pak Pin masih aktif membagikan pengetahuan arkeologinya. Seperti kontribusinya dalam penulisan buku berjudul "Kraton Ratu Boko: A Javanese Site of Enigmatic Beauty" yang saya pegang itu.

Semoga Pak Pin sehat selalu, supaya bisa bercerita lebih banyak untuk didokumentasikan agar dapat didengar/dibaca oleh lebih banyak orang.

Salut!

Foto ini di arena ‪#‎JMR2016‬ :) 
Trims Mas Afif!

Mlekom,
AZ


Monday, May 2, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 11:43:00 PM | No comments

Tentang Dedek, Si Budi dan Lainnya...


Dedek
Hingga delapan bulan kelahirannya, seorang bayi belum memperoleh nama. Kedua orangtuanya belum memutuskan sebuah nama bagi bayi kedua mereka ini. Kakak si bayi yang berusia dua tahun, kerap memanggilnya dengan "Dedek". Orangtuanya mengikuti, meski lebih sering memanggilnya dengan "Adek".

Sebutan Dedek mulai populer di kalangan saudara, tetangga, kerabat, handai taulan, hingga adik si bayi yang lahir lima tahun setelahnya. "Kak Dedek," begitu si adik memanggilnya.

Si Budi
Seorang pegawai bank menyerahkan perawatan anaknya kepada Nenek Diah, begitu anaknya menyebut sang baby sitter, sejak bayi hingga berusia tiga tahun. Saking dekatnya hubungan anak dan perawatnya ini, si anak selalu ngelendot kemanapun Nenek Diah pergi, bahkan ketika berakifitas. 

Bahu Nenek Diah sering dinaiki ketika ia sedang mencuci, serta kemanjaan lainnya. Meski merecoki pekerjaannya, Nenek Diah tak pernah marah. Ia bahkan menyebut anak ini dengan "Si Budi" yang diartikannya dengan Si Baik Budi.

Adriani
Ramijah lahirkan seorang bayi perempuan, dan memberinya sebuah nama. Nama itu kemudian diganti menjadi Muryati, untuk menangkal nasib buruk yang membuatnya sering jatuh sakit.

Haidanur melahirkan bayi perempuan, diberi nama Adriani, yang menurut cerita, diambil dari nama adik suaminya yang meninggal dunia di akhir usia remaja.

Muryati awalnya bernama Adriani. Haidanur adalah kakak ipar Muryati.

Dewi
Sekelompok anak SMP mungkin kesulitan menyebut kata Dwi, sehingga mereka memanggilnya dengan Dewi.

Aad
Guru sebuah lembaga bahasa menyebut muridnya yang bernama Adriani dengan panggilan Aad. Untuk membedakan ketika memanggil nama murid lainnya yang bernama Andriani, yang memiliki panggilan "Aan".

Tika
Dua teman baik merasa perlu untuk memanggil sahabatnya dengan sebutan "Tika", sebuah suku kata dari nama belakang sang sahabat.

Rian
Terkadang, orang membuat panggilan nama seseorang dari potongan suku kata yang terdapat dalam sebuah nama. Termasuk ad-rian-i. Sejumlah kelompok pertemanan menggunakan sebutan ini.

Adrian
Terkadang lagi, orang menyebut nama seseorang berdasar kemiripan nama dengan orang lain. Seseorang bernama Adrian sangat banyak kan?

AZ
Zulivan Syarif, begitu nama ayahnya. Syarif adalah nama kakeknya. Sebagaimana 'urang awak' kebanyakan, ia menambahkan nama ayahnya di belakang nama. Maka kini dia lebih dikenal dengan Adriani Zulivan. Atau Dedek Zulivan di lingkungan keluarga.

Bayi, anak, sahabat, perempuan yang memiliki banyak sebutan dan panggilan nama ini, bernama Adriani Dwi Kartika binti Zulivan. Usianya bertambah hari ini.

Foto waktu masuk TK, dikirim papa via WA di ultahku tahun lalu :)

Mlekom,
AZ

Thursday, April 28, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 1:58:00 PM | No comments

Kota Ramah Lingkungan Dimulai dari Trotoar yang Nyaman


Maju tidaknya sebuah kota dapat dilihat dari kondisi trotoarnya. Sebab trotoarlah panggung keseharian dimana manusia kota dan aktifitasnya saling bersinggungan.

Di kota-kota besar di Indonesia, perputaran ekonomi yang sebenarnya terjadi nyata di trotoar. Pedagang asongan, warung tenda, parkiran kendaraan dan seterusnya, berlangsung di atas trotoar. Bahkan di sebagian sudut kota megapolitan Indonesia, terbangun rumah non permanen yang menjadi tempat tinggal manusia yang dimarjinalkan kota.

Kondisi tersebut memang menciptakan perekonomian, namun hanya bagi sebagian orang seperti pedagang dan juru parkir. Pihak lain--yaitu publik yang lebih luas, justru merasakan dampak sebaliknya. Misalnya, warga penyandang disabilitas tertabrak warung yang beroperasi di atas trotoar, atau kemacetan akibat parkir yang memakan trotoar.

Coba bandingkan kondisi ini dengan trotoar di negara maju. Yang terdekat saja lah, Singapur misalnya, yang sangat memanjakan pejalan kaki. Warga dan pendatang di sana memilih berjalan kaki dengan berbagai alasan. 

Selain trotoar yang nyaman, mahalnya harga yang harus dibayar untuk kepemilikan dan penggunaan kendaraan pribadi--pajak dan bahan bakar, membuat warga rela berjalan lebih banyak untuk mencapai stasiun MRT.


Kali ini tak perlu berdebat tentang hak pejalan kaki versus urusan perut orang-orang yang hidup dan menghidupi diri di atas trotoar. Mari berbicara tentang dampak positif dari ramainya orang berjalan kaki akibat kondisi trotoar yang nyaman:
  1. Pengurangan gas buang emisi.
  2. Mengurangi kepadatan kendaraan. Pejalan akan lebih memilih transportasi umum, tentu saja.
  3. Mengurangi sampah visual. Tak perlu lagi banner dan baliho esar yang mengganggu pemandangan, sebab pejalan kaki dapat langsung membaca tulisan promosi yang terletak tak jauh jaraknya dari trotoar tempatnya berjalan. Bukankan baliho dan alat promosi luar ruang lainnya memang diperuntukkan bagi pengguna kendaraan bermotor?
  4. Mendekatkan pedagang kepada konsumen. Bayangkan sensasi melewati deretan etalase toko 'fisik', dan bandingkan dengan klik gambar produk yang dipilih di toko online. Toko yang secara fisik ada, memungkinkan pembeli untuk melihat, memegang dan membaui barang yang diinginkan dan barang itu dapat segera berada di tangan pembeli tanpa menunggu waktu kirim.
  5. Tentu saja membuat warga menjadi sehat.
Mari sepakati bahwa untuk mewujudkan kota ramah lingkungan, salah satunya dapat dimulai dengan penyediaan trotoar yang nyaman. Indonesia memang belum menjadi negara maju, namun mewujudkannya bukan tidak mungkin jika pemerintah dan warga saling mendukung.

Mlekom,
AZ


Wednesday, April 27, 2016

Posted by adriani zulivan Posted on 7:18:00 PM | No comments

Toples Polkadot


Dua minggu lalu menemukan banyak makanan kadaluarsa di tempat penyimpanan makanan di kosan. Semalam demi tidak kejadian lagi, diniatin bawa makanan ke kantor.

Toh di kantor suka kelaparan, sedangkan di kos cuma numpang tidur. Juga sekalian memberdayakan toples yang sudah dibeli hampir setahun lalu cuma karena desainnya polkadot :p

Mampir-mampirlah ke sini!

Mlekom,
AZ
Aku terlahir dari ayah yang seorang pegawai negeri sipil, yang menuntut ayah untuk berpindah-pindah lokasi tugas untuk promosi pekerjaannya. Ini alasan mengapa aku sudah mengalami hidup berpindah-pindah, sejak usia 3 tahun.

Kota pertama yang kami jadikan tempat menetap sementara terletak di provinsi paling barat. Bukan kota besar, melainkan ibukota kabupaten yang berjarak 12 jam perjalanan darat dari ibukota provinsi. Ya, waktu itu cuma dapat ditempuh dengan jalur darat, melalui jalan raya yang membelah pegunungan, dengan kanan-kiri berupa jurang terjal.

Sebagai kabupaten baru, menurut cerita, kota ini dibangun dengan membabat hutan belantara. Pantas saja, sebab ia berada di dekat areal hutan lindung Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL). TNGL merupakan satu dari 50 taman nasional yang ada di Indonesia, termasuk dalam daftar unit Situs Warisan Dunia kategori World Network of Biosphere Reserves. Mungkin ini yang menjadi alasan aktor Hollywod Leonardo Dicaprio mengunjungi kawasan ini awal April lalu.

Hidup di lingkungan yang katanya bekas hutan, dan masih dalam wilayah sekitar Taman Nasional, membuat serangga ordo diptera bernama nyamuk, menjadi 'tamu' yang paling rajin mendatangi rumah kami. Meskipun kami menjalankan perilaku idup bers9h dan sehat (PHBS) yang dianjurkan Kementerian Kesehatan itu.

Selain obat nyamur bakar berbentuk lilitan melingkar, di jaman itu sudah ada anti nyamuk semprot dan elektrik. Lalu disusul dengan beragam produk losyen. Keluarga kami menggunakan jenis semprot dan elektrik, sampai hari ini.

Sampai pensiun, ayahku terus dipindah-tugaskan ke berbagai daerah di Indonesia. Dari yang sebelumnya tidak terlalu sering, hingga menjadi sangat sering selama dua sampai tiga tahun sekali. Pengalaman kami berpindah-pindah membuatku tahu, bahwa nyamuk tak hanya ada di daerah-daerah terpencil, namun juga kota besar seperti Jakarta. "Wah, nyamuk Jakarta sebesar lalat!," kata adikku waktu ayah kami ditugaskan di sana.

Untuk produk semprot dan elektrik, keluargaku selalu memasukkan merk HIT ke dalam kantong belanja bulanan. HIT obat nyamuk menjadi merk langganan sejak Indonesia mengalami masa krisis moneter menjelang akhir '90an. Pemilihan ini tentu dengan pertimbangan bahwa merk ini mampu bekerja efektif dan tidak membuat kantong bolong.

Kami juga tak memakan mentah-mentah isu yang beredar tentang bahaya bahan yang terkandung dalam produk HIT obat nyamuk. Selain bukti lamanya kami mengonsumsi produk ini, juga kami memiliki tips menggunakan HIT obat naymuk.

Untuk HIT obat nyamuk semprot, gunakan di ruangan tertutup seperti kamar tidur. Semprot kamar setelah magrib, ketika nyamuk-nyamuk nakal mulai keluar dari peraduan. Tutup pintu kamar, pastikan tidak ada orang di dalam kamar. Tunggu setengah jam, kamar siap digunakan tanpa khawatir menghirup zat berbahaya.

Untuk HIT obat nyamuk elektrik, kami gunakan di ruang terbuka seperti ruang keluarga. Jangan letakkan alat ini dekat dengan penciuman. Meletakkannya di dekat sumber udara seperti jendela dan pintu akan lebih baik.

Itu cara kami. Mana caramu? :)

Mlekom,
AZ


*cerita ini diikutkan dalam lomba "Say It to HIT"
  • Atribution. Powered by Blogger.
  • ngeksis

  • mata-mata